Sebelum bulan Ramadhan
tiba, alangkah baiknya agar kita memiliki bekal ilmu. Apa saja bekal ilmu menyambut Ramadhan
yang dimaksud? Ilmu yang harus kita miliki adalah ilmu yang bisa membuat ibadah
puasa kita sah, tidak jadi sia-sia dan semakin membuat puasa kita sempurna
serta penuh makna.
1- Ilmu Tentang Puasa
Puasa
artinya menahan diri dari berbagai pembatal puasa mulai dari terbitnya fajar
Shubuh hingga tenggelamnya matahari (waktu Maghrib).
Puasa
ini diwajibkan bagi orang yang telah baligh (ditandai dengan mimpi basah atau
datang haidh pada wanita), berakal (tidak gila), dalam keadaan sehat dan tidak
sedang bersafar.
Bagi
orang yang sakit dan musafir mendapatkan keringanan tidak berpuasa dan mesti
mengganti di hari lainnya (menunaikan qadha’). Begitu pula untuk orang sepuh
(tua renta) yang tidak kuat lagi untuk berpuasa dan orang yang sakit menaun tak
kunjung sembuh mendapat keringanan tidak berpuasa.
Sebagai gantinya adalah
menunaikan fidyah, yaitu sehari tidak berpuasa berarti menunaikan fidyah berupa
satu bungkus makanan yang diberikan pada orang miskin.
Wanita
hamil dan menyusui pun mendapat keringanan tidak berpuasa jika mereka merasa
berat atau khawatir pada keadaan diri atau bayinya. Sebagai gantinya, wanita
hamil dan menyusui tersebut mesti menunaikan qadha’ di hari lain saat ia mampu.
Karena keduanya lebih tepat dimisalkan dengan wanita hamil dan menyusui bukan
dengan orang yang telah sepuh yang hanya menunaikan fidyah.
Adapun
yang termasuk pembatal puasa adalah makan dan minum dengan sengaja, muntah
dengan sengaja, datang haidh dan nifas, keluar mani saat bercumbu, dan
berhubungan intim dengan sengaja.
Puasa
tersebut dilakukan dengan berniat. Maksud niat adalah berkeinginan atau
mengetahui dalam hati akan melakukan suatu ibadah, tanpa dilafazkan dengan
ucapan niat tertentu. Niat itu pun harus ada setiap malamnya. Nabi SAW bersabda,
“Barang siapa yang tidak berniat sebelum fajar (Shubuh), maka tidak ada
puasa untuknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An Nasai, shahih).
Puasa
yang sempurna dilakukan akan menggapai derajat takwa sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
dalam (QS. Al Baqarah: 183) (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa”
2- Ilmu Tentang Amalan Sunnah Saat Puasa
Di
antara amalan sunnah yang bisa dilakukan adalah:
a-
Makan sahur
Dalam
hadits dari Anas disebutkan, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur itu
terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih). Waktu sahur disunnahkan
untuk diakhirkan karena jarak makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dengan waktu pengerjaan Shalat Shubuh adalah sekitar membaca 50
ayat Al Qur’an (berarti: 10-15 menit) sebagaimana diterangkan dalam hadits yang muttafaq
‘alaih. Dari hadits ini, Abu Jamroh mengatakan bahwa makan sahur itu
(disunnahkan) diakhirkan waktunya.
b-
Berbuka puasa
Jika
azan Maghrib telah berkumandang, maka diperintahkan untuk segera berbuka. Disunnahkan
berbuka ketika itu dengan kurma. Jika tidak ada bisa diganti dengan makanan
yang manis-manis karena akan mengembalikan kekuatan orang yang telah berpuasa.
Saat
kita mulai menyantap makanan berbuka, tetap mengucapkan ‘bismillah’ sebagaimana
adab yang diajarkan dalam Islam saat makan. Setelah itu mengucapkan doa saat
berbuka puasa, “Dzahabazh zhoma-u wabtalatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya
Allah” (artinya: dahaga telah hilang dan urat-urat leher telah basah dan
pahala telah ditetapkan insya Allah). (HR. Abu Daud, hasan)
c-
Memberi makan berbuka puasa
Nabi SAW bersabda,
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang
yang ber puasa, tanpa mengurangi pahala orang yang ber puasa itu sedikit pun
juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
d-
Lebih banyak bersedekah dan beribadah di bulan Ramadhan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam termasuk yang begitu giat melakukan amalan kebaikan,
juga berderma di bulan Ramadhan dibandingkan waktu lainnya.
Guru-guru
dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan,
“Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah agar kita bisa bersedekah. Karena
bersedekah di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah
di jalan Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir
“subhanallah”) lebih afdhol dari seribu bacaan tasbih pada bulan-bulan
lainnya.” (Silahkan Sobat lihat di kitab Lathoiful Ma’arif, halaman 270).
Juga
yang dituntut pada bulan Ramadhan adalah untuk memperbanyak tilawah dan
mengkaji Al Qur’an. Karena bulan Ramadhan disebutkan, “Bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” (QS. Al Baqarah: 185).
e-
Menggapai lailatul qadar, malam yang amalan di dalamnya lebih baik daripada
seribu bulan.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memerintahkan, “Carilah lailatul qadar pada malam
ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari). Untuk
mudah meraihnya adalah dengan melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di
masjid, yaitu berdiam walau beberapa waktu di masjid dalam rangka ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri biasa
melakukan i’tikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
3- Ilmu tentang Shalat Tarawih
Shalat
tarawih disunnahkan dilakukan secara berjama’ah baik bagi laki-laki dan
perempuan. Shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah 11 raka’at. Namun menurut mayoritas ulama, shalat
tarawih tidak dibatasi jumlah raka’atnya. Shalat tarawih boleh dikerjakan
dengan raka’at yang sedikit maupun banyak. Karena saat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau tidak
memberikan batasan. Yang beliau katakan, “Shalat malam itu dua raka’at
salam, dua raka’at salam.” (Muttafaqun ‘alaih). Alasan lainnya, Umar
bin Khattab pernah memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk melaksanakan shalat
tarawih sebanyak 20 raka’at. Intinya, shalat tarawih boleh dilakukan dengan 11
atau 23 raka’at asalkan shalat tersebut memiliki thuma’ninah,
artinya tidak ngebut atau tidak dengan kecepatan tinggi. Thuma’ninah itu
adalah bagian rukun shalat, yang jika tidak ada berarti shalat tidaklah sah.
4- Ilmu Tentang Zakat Fithrah
Zakat
fithrah adalah zakat yang dikeluarkan menjelang Idul Fithri, paling cepat dua
atau tiga hari sebelum Idul Fithri, bukan dibayar di awal atau pertengahan
bulan. Zakat fithri yang dikeluarkan bentuknya adalah beras yang merupakan
makanan pokok (bukan uang) dengan ukuran satu sho’ (kisaran 2,1 – 3,0 kg).
Zakat fithri ini disalurkan pada fakir miskin dengan tujuan untuk membahagiakan
mereka pada hari raya dengan makanan dan untuk menyucikan orang yang
berpuasa. Waktu akhir penunaian zakat fithri adalah sebelum shalat ‘ied
dilaksanakan. Sumber: https://muslim.or.id/21797-ilmu-yang-mesti-diketahui-sebelum-ramadhan.html
Tags yang terkait dengan puasa ramadhan: pengertian puasa
ramadhan, syarat dan rukun puasa ramadhan, yang membatalkan puasa ramadhan,
puasa ramadhan 2018, puasa ramadhan 2018 jatuh pada tanggal, makalah puasa
ramadhan.
Terima kasih info nya sangat berguna ni buat baca baca.!!
ReplyDeleteHaid Tidak Teratur Saat Puasa dan Cara Mengatasinya